Kamis, 06 Desember 2012

RADEGAS Buletinnya Pelajar SMPN 1 Purbolinggo

Selamat dan Sukses Atas Terbitnya RADEGAS Buletin Pelajar SMPN 1 Purbolinggo Lampung Timur
Semoga Menjadi  wadah kreatifitas menulis bagi pelajar dan  bisa menjadi media edukasi bagi warga sekolah dan warga Masyarakat.  

sumber berita

SPIRIT BARU




Sabtu, 17 November 2012

Kerugian tidak memiliki Buletin Sekolah


Ada beragam aktifitas yang dilakukan disekolah selain kegiatan belajar mengajar. berbagai aktifitas ini mungkin salah satunya melahirkan  prestasi-prestasi baik tingkat sekolah itu sendiri maupun tingkat Kecamatan, Kabupaten, Propinsi bahkan tingkat nasional. Tentu hal ini bisa mejadi kebanggaan bagi warga sekolah dan masyarakat luas. Saya tidak bermaksud mengajari pengunjung blog ini, namun saya ingin mengajak untuk menilik beberapa KERUGIAN jika sekolah tidak memiliki buletin yang bisa diterbitkan secara rutin.

“Menghamburkan” potensi Penulis Kreatif

FAKTA 1. : Saat ini hampir tiap siswa sekolah berinteraksi dengan SMS melalui handphone, Chatting, Update status melalui social media dan banyak lagi aktifitas tulis menulis yang dilakukan. Beragam bahasa yang dipakai, ratusan gaya penulisan, dan tingginya frekwensi kegiatan tersebut.  Namun berapa persen kegiatan menulis tersebut yang berisi informasi, fakta atau ulasan peristiwa yang LAYAK di terbitkan, disebarluaskan dan di baca oleh umum. Faktanya bahwa sebagian besar aktifitas menulis saat ini lebih bersifat pada hal-hal  pribadi, ajang curhat dan entertainmen belaka.  Padahal energi, waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut tidaklah sedikit.

FAKTA II: Bandingkan dengan banyaknya informasi seputar sekolah mulai dari kegiatan sekolah, prestasi sekolah, kebijakan dan program sekolah, atau fakta-fakta lain yang  TIDAK DIKETAHUI seluruh warga sekolah (apalagi masyarakat luas)  hanya karena TIDAK PERNAH DI PUBLIKASIKAN.

Jika kedua fakta ini digabungkan maka merupakan sebuah potensi besar yang dapat di manfaatkan bersama antara Siswa & guru (Secara Pribadi) dan warga sekolah (Secara Institusi) untuk berbagai tujuan.

Tujuan Secara pribadi:

Setiap orang membutuhkan tempat untuk mengaktualisasikan diri dan karyanya kepada orang lain. Misal pribadi itu senang menulis, senang meneliti, senang menggambar/design, senang bercerita, senang mengarang (fiksi), senang dokumentasi foto, dan banyak kesenangan lainya, tentu ia membutuhkan wadah yang bisa menampung karya yang berbentuk tulisan (artikel, feature, cerpen, karya ilmiah dll.) berbentuk gambar (foto, desain, karikatur dll.).

Tujuan secara institusi:

Setiap Institusi/lembaga tentu mengemban  Visi dan Misi jangka panjang yang setiap saat harus dievaluasi dan jika perlu mesti  ”ditajamkan” lagi dengan beragam cara.  Menyediakan wadah yang dapat menampung dan mempublikasikan kreatifitas warga institusinya adalah salah satu cara untuk  menajamkan visi tersebut.

Setiap isntitusi/lembaga butuh pencitraan dari waktu-kewaktu. Namun pencitraan ini tidak bisa hanya dibangun dengan sederet kalimat Visi & Misi saja, namun juga harus dibangun dengan berderet-deret Aksi & Prestasi. Apa jadinya jika Aksi dan Prestasi ini hanya menjadi penghuni lemari arsip saja, tidak diketahui oleh khalayak yang juga berhak atas informasi itu.

Sekolah di Kecamatan Purbolinggo (Bagian 1)

 SMA Muhammadiyah 1 Purbolinggo Lampung Timur
 SMP Muhammadiyah  Purbolinggo Lampung Timur
SMA Ma'arif Nu 5 Purbolinggo Lampung Timur

Jumat, 19 Oktober 2012

Berikut cara Memasang Iklan Google | Belajar Ilmu Komputer | Ilmu Blog

Sebagai pemula di blog, saya terkesan membaca artikel mengenai cara memasang iklan Google yang saya dapatkan dari link dibawah ini
Berikut cara Memasang Iklan Google | Belajar Ilmu Komputer | Ilmu Blog

MEMBIASAKAN DIRI MENULIS Karena Me(NULIS) itu Mudah


Oleh: Suyatno,S.P.

Menulis bagi sebagian besar orang adalah pekerjaan yang tidak mudah untuk dilakukan. Sebenarnya bukan karena tidak bisa menulis, tetapi lebih banyak disebabkan oleh munculnya kebingungan memilih kata-kata apa yang akan ditulis pertama kali. Kebingungan inilah yang seringkali menyebabkan keinginan menulis menjadi tertunda atau bahkan berhenti. Lumrah…ya……. sayapun mengalami kondisi ini, ketika diperjalanan memiliki keinginan untuk menuliskan sesuatu yang menarik, namun begitu sudah didepan notebook jari-jarinya terasa kaku, seolah-olah sulit di arahkan menuju ke huruf mana yang akan diketik dahulu. Kadang sudah tersusun sebuah kata, tapi bingung mau menulis kata-kata berikutnya. Bahkan tidak jarang untuk membuat satu paragraf saja butuh waktu puluhan menit…

Minggu, 30 September 2012

PENULISAN GELAR AKADEMIK

Oleh: Dr. Warsiman, M.Pd.
Sumber: http://blog.sunan-ampel.ac.id/warsiman/2010/05/18/penulisan-gelar-akademik/
Dosen tetap Fakultas Adab, dosen Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan dosen Jurusan Bahasa Indonesia FPBS IKIP PGRI Bojonegoro

Kendati hanya persoalan kecil, tetapi kebanyakan orang tidak memahami penulisan gelar yang benar. Penulisan gelar sejatinya tidaklah sesulit yang dibayangkan, tetapi juga tidak segampang yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang.
Berdasarkan aturan kebahasaan, penulisan gelar termasuk kategori pemahaman tentang singkatan. Singkatan adalah kependekkan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik dilafalkan huruf demi huruf maupun dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya. Selain itu, dalam buku pedoman umum ejaan yang disempurnakan (EYD), penulisan gelar juga secaraintens disinggung, bahkan disertai beberapa contoh penulisan yang benar. Namun demikian, masyarakat masih saja banyak yang belum memahami dengan baik teknik penulisan gelar yang benar.
Sekarang, marilah kita analisis tentang penulisan gelar ini, agar kita tidak lagi menemui kesulitan di kemudian hari.
Jika dianalisis kata per kata, penulisan gelar dapat dinalar melalui teori singkatan. Sebagai misal, penulisan gelar sarjana pendidikan, yang ditulis benar, Sarjana Pendidikan (S.Pd.), dan ditulis di belakang nama penyandang gelar. Huruf “S“ pada kata sarjana, ditulis dengan huruf besar dan diakhiri dengan tanda titik, merupakan satu kata. Kemudian, huruf “P” ditulis dengan huruf besar, tetapi huruf “D” ditulis dengan huruf kecil dan diakhiri dengan tanda titik. Huruf “D” ditulis dengan huruf kecil karena posisinya sebagai bagian dari rangkaian satu kata dengan huruf “P” yang merupakan kepanjangan dari kata “pendidikan”. Demikian pula singkatan-singkatan gelar lain yang sejenis dengan contoh tersebut, juga akan mengalami proses kebahasaan yang sama.
Lain halnya dengan singkatan pada gelar yang tanpa menyertakan huruf peluncur sebagai bagian dari rangkaian satu kata. Sebagai misal, penulisan gelar sarjana hukum, sarjana ekonomi, dan sarjana pertanian. Jika disingkat, ketiga contoh gelar tersebut hanya terdiri dari huruf awal, dan tanpa menyertakan huruf peluncur yang merupakan bagian dari rangkaian kata, sehingga penulisannya pun terdiri atas huruf per huruf serta masing-masing ditandai dengan tanda baca titik. Dengan demikian, penulisan gelar sarjana hukum, ditulis di belakang nama penyandang gelar dengan singkatan: S.H., sarjana ekonomi ditulis S.E., dan sarjana pertanian ditulis S.P.. Penulisan-penulisan gelar lain yang sejenis dengan contoh tersebut, dan yang hanya terdiri dari dua huruf atau lebih tanpa disertai dengan huruf peluncur sebagai bagian dari rangkaian kata, harus mengikuti pola penulisan tersebut.
Berikut ini contoh-contoh penulisan gelar yang benar.

Gelar Sarjana
S.Ag. (Sarjana Agama)
S.Pd. (Sarjana Pendidikan)
S.Si. (Sarjana Sains)
S.Psi. (Sarjana Psikologi)
S.Hum. (Sarjana Humaniora)
S.Kom. (Sarjana Komputer)
S.Sn. (Sarjana Seni)
S.Pt. (Sarjana Peternakan)
S.Ked. (Sarjana Kedokteran)
S.Th.I. (Sarjana Theologi Islam)
S.Kes. (Sarjana Kesehatan)
S.Sos. (Sarjana Sosial)
S.Kar. (Sarjana Karawitan)
S.Fhil. (Sarjana Fhilsafat)
S.T. (Sarjana Teknik)
S.P. (Sarjana Pertanian)
S.S. (Sarjana Sastra)
S.H. (Sarjana Hukum)
S.E. (Sarjana Ekonomi)
S.Th.K. (Sarjana Theologi Kristen)
S.I.P. (Sarjana Ilmu Politik)
S.K.M. (Sarjana Kesehatan Masyarakat)
S.H.I. (Sarjana Hukum Islam)
S.Sos.I. (Sarjana Sosial Islam)
S.Fil.I. (Sarjana Filsafat Islam)
S.Pd.I. (Sarjana Pendidikan Islam), dsb.

Gelar Magister
M.Ag. (Magister Agama)
M.Pd. (Magister Pendidikan)
M.Si. (Magister Sains)
M.Psi. (Magister Psikologi)
M.Hum. (Magister Humaniora)
M.Kom. (Magister Komputer)
M.Sn. (Magister Seni)
M.T. (Magister Teknik)
M.H. (Magister Hukum)
M.M. (Magister Manajemen)
M.Kes. (Magister Kesehatan)
M.P. (Magister Pertanian)
M.Fhil. (Magister Fhilsafat)
M.E. (Magister Ekonomi)
M.H.I. (Magister Hukum Islam)
M.Fil.I. (Magister Filsafat Islam)
M.E.I. (Magister Ekonomi Islam)
M.Pd.I. (Magister Pendidikan Islam), dsb.
S.Th.K. (Sarjana Theologi Kristen)


Gelar Sarjana Muda Luar Negeri
B.A. (Bechelor of Arts)
B.Sc. (Bechelor of Science)
B.Ag. (Bechelor of Agriculture)
B.E. (Bechelor of Education)
B.D. (Bechleor of Divinity)
B.Litt. (Bechelor of Literature)
B.M. (Bechelor of Medicine)
B.Arch. (Bechelor of Architrcture), dsb.

Gelar Master Luar Negeri
M.A. (Master of Arts)
M.Sc. (Master of Science)
M.Ed. (Master of Education)
M.Litt. (Master of Literature)
M.Lib. (Master of Library)
M.Arch. (Master of Architecture)
M.Mus. (Master of Music)
M.Nurs. (Master of Nursing)
M.Th. (Master of Theology)
M.Eng. (Master of Engineering)
M.B.A. (Master of Business Administration)
M.F. (Master of Forestry)
M.F.A. (Master of Fine Arts)
M.R.E. (Master of Religious Ediucation)
M.S. (Mater of Science)
M.P.H. (Master of Public Health), dsb.

Gelar Doktor Dalam Negeri

Penulisan gelar doktor dalam negeri pun sering tidak dipahami dengan benar oleh kebanyakan orang, padahal jika kita mampu menganalisis, tidaklah sulit untuk dapat menemukan jawabannya.
Penulisan gelar doktor dalam negeri sama dengan penulisan gelar-gelar yang lain. Karena huruf “D” dan “R” merupakan rangkaian satu kata, maka penulisan gelar doktor yang benar adalah: Dr. (Doktor), dan ditulis di depan nama penyandang gelar. Huruf “D” ditulis dengan huruf besar, dan huruf “R” ditulis dengan huruf kecil, dan diakhiri dengan tanda titik pula.
Selain itu, di Indonesia juga memberlakukan sebutan profesional untuk program diploma. Aturan main penulisan sebutan profesional dalam negeri untuk program diploma ditulis di belakang nama penyandang sebutan profesional tersebut. Perhatikan beberapa sebutan profesional program diploma dalam negeri sebagai berikut.

Program diploma satu (D1) sebutan profesional ahli pratama, disingkat (A.P.);
Program diploma dua (D2) sebutan profesional ahli muda, disingkat (A.Ma.);
Program diploma tiga (D3) sebutan profesional ahli madya, disingkat (A.Md.); dan
Program diploma empat (D4) sebutan profesional ahli, disingkat (A.).

Akhir-akhir ini sebutan profesional untuk program diploma, sebagaimana yang tertera itu, cenderung diikuti oleh ilmu keahlian yang dimiliki. Sebagai misal, sebutan profesional untuk ahli muda kependidikan disingkat A.Ma.Pd., ahli madya keperawatan disingkat A.Md.Per., ahli madya kesehatan disingkat A.Md.Kes., ahli madya kebidanan disingkat A.Md.Bid., dan ahli madya pariwisata disingkat A.Md.Par.

Selanjutnya, banyak orang bertanya-tanya tentang beberapa gelar doktor luar negeri yang tidak mereka pahami maksudnya, juga tidak mereka ketahui cara penulisannya, sehingga banyak diantara mereka hanya dapat memperkirakan maksud, dan demikian pula cara penulisannya. Karena berdasarkan perkiraan belaka, maka banyak diantara mereka salah menebak maksud serta cara penulisannya.
Penulisan gelar doktor, master, dan sarjana muda dari luar negeri, ditulis di belakang nama penyandang gelar. Sebagaimana penulisan gelar-gelar dalam negeri, penulisan gelar dari luar negeri pun sama. Untuk dapat memahami penulisan yang benar, kita perlu menganalisis kata per kata sebagaimana cara menganalisis kata per kata pada penulisan gelar dalam negeri. Sebagai misal, gelar doctor of philosophy, yang ditulis benar [Ph.D.]. Huruf “P” ditulis dengan huruf besar, tetapi huruf “H” ditulis dengan huruf kecil, dan diakhiri dengan tanda titik. Huruf “H” ditulis dengan huruf kecil karena posisinya sebagai bagian dari rangkaian satu kata dengan huruf “P” yang merupakan kepanjangan dari kata philosophy, sedangkan huruf “D” ditulis dengan huruf besar sebagai singkatan dari kata doctor, dan diakhiri dengan tanda titik.


Perhatikan beberapa gelar doktor luar negeri yang sering kita jumpai di Indonesia, dan contoh penulisannya:
Ph.D. (Doctor of Philosophy); => Sigit Sugito, Ph.D.
Ed.D. (Doctor of Education); => Sigit Sugito, Ed.D.
Sc.D. (Doctor of Science); => Sigit Sugito, Sc.D.
Th.D. (Doctor of Theology); => Sigit Sugito, Th.D.
Pharm.D. (Doctor of Pharmacy); => Sigit Sugito, Pharm.D.
D.P.H. (Doctor of Public Health); => Sigit Sugito, D.P.H.
D.L.S. (Doctor of Library Science); => Sigit Sugito, D.L.S.
D.M.D. (Doctor of Dental Medicince); => Sigit Sugito, D.M.D.
J.S.D. (Doctor of Science of Jurisprudence). => Sigit Sugito, J.S.D., dsb.


Tambahan lagi, penulisan gelar ganda yang kedua gelar tersebut berada di belakang nama penyandang gelar, juga perlu memperhatikan teknik penulisan yang benar. Bahwasanya, selama ini kita sering menjumpai bahkan mungkin, menjadi pelaku sendiri penulisan gelar ganda yang tidak memperhatikan tata cara penulisan yang benar.


Tenik penulisan gelar ganda yang kedua-duanya berada di belakang nama penyandang gelar, banyak terkait dengan penggunaan tanda baca koma (,). Penulisan yang benar adalah setelah nama (penyandang gelar), dibubuhkan tanda koma (,) kemudian diikuti gelar yang pertama, ditulis dengan teknik penulisan yang benar, lalu dibubuhkan tanda koma untuk penulisan gelar yang kedua, dan seterusnya (jika ada gelar-gelar yang lain). Perhatikan beberapa contoh penulisan gelar ganda di bawah ini:

Endra Lesmana, S.Ag., S.H.
Endra Lesmana, S.Pd., S.S.
Endra Lesmana, S.Hum., S.Pd.I.

Jika penyandang gelar memiliki gelar lebih dari dua gelar, dan semuanya berada di belakang nama penyandang gelar, teknik penulisannya pun sama. Perhatikan pula beberapa contoh penulisan gelar yang lebih dari dua gelar di belakang nama penyandang gelar.

Imam Prasodjo, S.S., M.Hum., M.Pd.
Imam Prasodjo, S.Pd., S.S., M.Ed.
Imam Prasodjo, S.Ag., M.E.I., Ph.D.


Penulisan gelar dengan mengikuti nama penyandang gelar yang ditulis dengan huruf balok (kapital), gelar tetap ditulis sesuai dengan penulisan gelar yang benar. Jika gelar tersebut terdapat huruf peluncur sebagai bagian dari rangkaian satu kata, sebagai misal, gelar S.Ag., S.Pd., S.Pt., huruf g, d, dan t yang posisinya sebagai huruf peluncur dari rangkaian satu kata, tidak ditulis dengan huruf besar. Perhatikan beberapa contoh di bawah ini:


Ditulis Benar           Ditulis Salah                                   Juga Ditulis Salah
Hadi Mulya, S.Pd.  HADI MULYA, S.PD.                   HADI MULYA, S.Pd.
Hadi Mulya, S.Ag.  HADI MULYA, S.AG.                 HADI MULYA, S.Ag.
Hadi Mulya, S.Pt.   HADI MULYA, S.PT.                  HADI MULYA, S.Pt.

Di dalam aturan kebahasaan, nama orang tidak dibenarkan ditulis dengan huruf balok (kapital), kecuali untuk kepentingan tertentu. Jika ditulis, huruf balok (kapital) hanya dibenarkan ditulis pada awal kata nama orang. Karena itu, penulisan gelar dengan mengikuti nama penyandang gelar yang sama-sama ditulis menggunakan huruf balok, tidak hanya salah, tetapi sudah salahkaprah

Sumber: http://blog.sunan-ampel.ac.id/warsiman/2010/05/18/penulisan-gelar-akademik/